Mengungkap Pesona DAS Barito


Sungai Barito merupakan salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Kalimantan. Menurut Maulani (2000), panjangnya tidak kurang dari 900 kilometer (hampir sepanjang pulau Jawa), dapat dilayari sepanjang 300 kilometer ke hulunya. Sungai Barito yang panjang tersebut, melewati dua wilayah propinsi yakni Kalsel dan Kalteng.


Di sungai yang sedemikian panjang, terdapat berbagai fenomena alam maupun masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito. Jika menyusuri Sungai Barito dengan perahu, terlihat kondisi perdesaan dan komunitas masyarakat yang saling terpencar serta sebagian besar hanya bisa terhubung dengan transportasi sungai.

Goerge Junus Aditjondro (2003) menggambarkan permukiman di tepi Sungai Barito, Kapuas dan Kahayan: 1) Perkampungan umumnya dibangun di pematang sungai yang ada tanjungnya, atau di muara persimpangan dua sungai besar। Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keadaan tanahnya lebih padat dan keras, dibanding dengan tanah rawa yang jauh dari tepi sungai; 2) Perkampungan yang berprofil linier dan dibangun sejajar sungai dapat tumbuh memanjang ke hulu atau ke hilir. Atau dibangun berbanjar sejajar dengan kampung lama, asal tetap dekat sungai.


Sepanjang DAS Barito, perkampungan penduduk dipisahkan hutan belantara dan sampai sekarang jalan darat belum bisa menghubungkan antarperkampungan penduduk. Pemandangan umum yang terlihat adalah masyarakat menggunakan jukung/klotok sebagai transportasi sungai.


Dari keadaan tersebut, pesona apakah yang terdapat di DAS Barito? Sebab, perhatian masyarakat maupun wisatawan pada umumnya terfokus pada kegiatan Pasar Terapung di muara Barito। Melayari Sungai Barito hingga ke hulu belum menjadi hal menarik, terutama untuk kegiatan perjalanan wisata. Sementara bagi orang yang lahir dan dibesarkan di DAS Barito, pemandangan sungai adalah biasa saja. Apalagi beberapa bulan lalu, Sungai Barito berlaku tidak ramah. Menenggelamkan permukiman penduduk di empat wilayah kabupaten di tepian Barito.


Selain komentar di atas, awal 1990-an ada keluarga membawa orang Bali pulang ke kampung। Pendapatnya ternyata sama. Ia mengagumi panorama alam, hutan dan kehidupan penduduknya di DAS Barito. Kalau dicermati, komentar demikian justru disampaikan dari orang-orang yang tempatnya terkenal sebagai daerah kunjungan wisata domestik maupun internasional.

Disadari juga, gambaran tersebut memang tidak bisa dikatakan refresentatif untuk mewakili pendapat orang luar। Beberapa waktu lalu, media lokal memberitakan komentar orang asing yang kecewa mendapati pemandangan Marabahan. Di benak orang asing itu, masih tergambar keramaian bandar perdagangan internasional di Kota Marabahan sebagaimana tulisan pelancong di masa silam.


Kini Kota Marabahan sepi, jauh dari gambaran sebelumnya। Ini sungguh tidak menguntungkan. Di masa lalu Marabahan sebagai kota di tepi Sungai Barito yang ramai sekali, sekarang sebaliknya. Berarti dalam setting yang berbeda, kita sebenarnya telah terlempar ke masa lalu, dan jauh sebelum zaman keemasan Kota Marabahan tempo dulu.


Reaktualisasi Masa Lalu

Sungai Barito memiliki dua anak sungai yang besar yaitu Sungai Bahan atau Nagara dan Sungai Martapura। Di sekitar Sungai Nagara dengan cabangnya Sungai Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit dan Amas, bermukim sebagian besar penduduk Kalsel. Kota penting di wilayah tersebut antara lain Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan, Rantau dan Negara. Sungai Martapura mengalir melewati kota Banjarmasin dan Martapura.


Sementara ke arah hulu (utara), Sungai Barito mempunyai persimpangan ke Kapuas dan Palangka Raya. Jika bergerak lurus menyusuri Sungai Barito, akan menemukan tiga kota besar sebagai ibukota kabupaten di propinsi Kalteng yakni Buntok, Muara Teweh dan Puruk Cahu.
Jauh sebelum berkembang transportasi darat, strategis Sungai Barito memungkinkan dua fungsi sungai di masa lalu। Yakni tempat perdagangan dan perlawanan Suku Dayak terhadap penjajah, dengan membangun basis perlawanan di hulu Barito.


Sekarang ada upaya untuk mereaktualisasinya, ini patut mendapat respon positif berbagai pihak. Langkah konkret dilakukan Pemkab Barito Utara, dengan mengadakan seminar tenggelamnya Kapal Unrost. Mereka juga mendatangi museum di Belanda, mencari data kapal Unrost. Kiranya untuk menarik wisatawan, situs Kapal Onrust bisa dijadikan magnet.

Selain tenggelamnya Unrost, masih ada daya tarik DAS Barito। Kita bisa melihat tongkang yang mengangkut batu bara, seperti gunung berjalan lalu lalang setiap hari di Sungai Barito. Pemandangan indah malam hari, manakala melihat lampu minyak yang dinyalakan di ujung rakit. Mirip kunang-kunang pergi berarak di atas permukaan air Sungai Barito.


Begitu pula dengan tradisi budaya berbagai etnis di DAS Barito। Kalau di Marabahan setiap tahun diadakan Lomba Perahu Naga, di Buntok, Muara Teweh dan Puruk Cahu ada upacara adat seperti Wara, Batiwah dan lain-lain. Tentu sangat menarik apabila bisa mengelolanya untuk even wisata tahunan, dengan icon Sungai Barito.


Pesona Yang Terancam

Di hulu DAS Barito, terdapat aktivitas penebangan hutan dan penambangan emas di pinggir sungai। Kalau tidak dikelola dengan baik, hutan menjadi gundul dan masyarakat ditimpa banjir tiap tahun. Kemudian efek dari penambangan emas, tercemarnya air sungai dengan merkuri membahayakan bagi penduduk yang meminumnya. Di sepanjang sungai, permukiman penduduk dan jalan desa mendapat ancaman serius, berupa abrasi yang disebabkan ombak kapal angkutan besar.


Kemudian di Muara Barito, air laut merembes ke darat apabila benteng Kalimantan yakni hutan mangrove binasa। Semuanya apabila tidak diantisipasi segera, tidak hanya pesona DAS Barito yang terancam, tetapi membawa mudharat bagi manusia.

Benarlah yang ditulis Amir Sodikin (Kompas, 21/05) sungai di Kalimantan benar-benar fungsional untuk transportasi। Lalu lintas air sungai besar ramai, tak ubahnya seperti darat. Tidak hanya perahu kecil, kapal penumpang besar hingga tongkang batu bara leluasa di sungai Kalimantan (termasuk Sungai Barito).

Kal-sel bahkan membuat pelabuhan untuk angkutan antarpulau, bukan di tepi laut melainkan di tepi Sungai Barito. Namun, kejayaan angkutan sungai akan segera berakhir. Penyebabnya tidak hanya faktor alam, melainkan lebih pada ketidakberdayaan atau mungkin ketidakpahaman pemerintah dalam memandang pembangunan.


Jadi, selagi Sungai Barito dan alam sekitarnya masih bisa dikelola, alangkah lebih baik kita merawatnya agar keindahannya bisa kita nikmati dan pesonanya menarik perhatian masyarakat luar। Bukankah alam tidak akan berkhianat terhadap orang yang merawatnya. (Nasrullah)



source : indomedia
foto : baritobasin

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP