Gua Gong dan Tabuhan di Pacitan

Bumi Pacitan yang berbukit dianugerahi beberapa gua yang cukup menarik. Gua Gong dan Gua Tabuhan merupakan dua diantaranya. Kondisi dan pesona yang berbeda disuguhkan oleh keduanya. Gua Gong dengan keindahan stalagtit dan stalagmitnya, sedangkan Gua Tabuhan dengan suara bebatuan di dalamnya yang menciptakan ritme alat musik gamelan.

Goa Gong terletak di Bomo Punung Pacitan, Jawa Timur. Jalan raya yang mulus dengan beberapa petunjuk jalan memudahkan Anda menjangkau obyek wisata tersebut. Begitu anda membayar tiket seharga Rp 4.000,- dan mulai menapaki jajaran tangga menuju lokasi gua, bersiaplah. Beberapa penduduk dengan penuh semangat akan mengikuti dan menawari Anda jasa guide, senter dan brosur sejarah gua. Meski sudah ditolak dengan halus pun beberapa kadang masih terus menguntit dan berusaha merayu. Tapi jangan khawatir mereka cukup sopan dan tidak memaksa.

Bila anda punya waktu untuk mendengarkan penjelasan, tak ada salahnya mengambil jasa guide. Selain membebaskan diri dari ‘serangan ’, mungkin akan ada beberapa informasi berguna. Ongkos guide biasanya berdasarkan kerelaan kita saja. Namun bila anda termasuk tipe yang lebih suka bebas menjelajah sendiri tanpa terikat waktu dan penjelasan, tolaklah dengan halus. Lama-lama mereka juga akan bosan dan menjauhi Anda.

Pintu masuk gua dihiasi dengan gerbang beratap stupa. Rolling door yang bisa dikunci terpasang di belakang gerbang. Mungkin sebagai pintu pengaman dari tangan-tangan jahil yang akan merusak gua selepas jam kunjung. Jalur jalan dengan tangga dan pagar stainless disediakan untuk memudahkan pengunjung.

Pemandangan indahnya gua yang masih hidup dengan stalagtite dan stalagmite yang terus tumbuh dan berkembang terhampar di sini. Tata cahaya yang indah menambah kesan dramatis dari berbagai bentuk yang tercipta karena tetesan air yang membawa kapur dan mineral lain. Entah berapa ratus tahun waktu yang diperlukan hingga tercipta pemandangan cukup spektakuler di tempat ini.

Merujuk namanya, Gua Gong, di benak pasti akan terbayang bentuk gong yang bulat tengan tongolan di tengahnya. Tapi jangan salah, anda akan capek sendiri kalau mencari-cari bentuk seperti itu di dalam gua ini. Rupanya nama Gua Gong tidak merujuk ke bentuk, namun ke bunyi. Salah satu batu yang berbentuk tirai besar, bila dipukul bunyinya mirip suara gong. Itulah yang menjadi latar belakang penamaan. Setiap guide yang lewat pasti akan menjelaskan dan memukul tirai tersebut. Waduh, pak, mbak jangan keras-keras ya mukulnya ntar tirai yang indah itu bisa rusak lho, batinku.

Lain Gua Gong, lain pula suguhan yang akan anda dapatkan dari Gua Tabuhan. Tak ada keindahan yang dijumpai di Gua Tabuhan. Gua yang sudah mati ini hanya terdiri dari sebuah ruangan di depan dan lorong pendek menuju ruangan yang konon dulu merupakan tempat bertapa Sentot Prawirodirjo, salah satu anak buah Pangeran Diponegoro. Namun jangan keburu kecewa, gua ini memiliki satu daya tarik yang cukup unik. Bebatuan di dalamnya bila ditabuh akan menciptakan sensasi bunyi seperti perangkat gamelan.

Anda tak perlu susah-susah mencoba memukul bebatuan atau dinding gua untuk mendengarkan bunyi tetabuhan. Cukup membayar Rp 50.000,- dan duduk manis di depan ”panggung pertunjukan” di dalam gua. Sekelompok penduduk, biasanya terdiri dari 12 orang, akan memainkan musik ala batuan gua untuk anda. Suara merdu sinden diiringi kendang dan tetabuhan alami tersebut akan menyuguhkan lima lagu. Harmoni musik yang indah, membuat kita seolah tak percaya bahwa itu tercipta dari suara bebatuan. Tembang Jawa yang lumayan rancak, membuat tubuh tanpa sadar ikut menari-nari mengikuti irama musik. Selain lagu Jawa, kadang diselipi juga dengan tembang yang tengah populer saat itu. Seperti lagu Matta yang sempat diperdengarkan saat itu.  ("Serambinya Siti")

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP