Gunung Wayang

Secara administratif Gunung Wayang berada di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Jika menggunakan kendaraan pribadi tempat ini bisa ditempuh selama kurang lebih selama empat jam dari pusat Kota Bandung, sedangkan dengan kendaraan umum bisa jadi jarak tempuhnya menjadi empat jam. Posisi Gunung Wayang diapit oleh beberapa gunung. Di sebelah selatan berbatasan dengan Gunung Malabar, sebelah barat berbatasan dengan perbukitan Arjasari, sebelah timur berbatasan dengan Gunung Papandayan dan sebelah utara berbatasan dengan wilayah Majalaya.
 
Sampai di Kaki Gunung Wayang, terlihat kebun teh menghampar luas. Sangat menyegarkan. Namun sayang di beberapa sudut, terutama yang berdekatan dengan tempat tinggal penduduk, pohon-pohon teh sudah diganti dengan tanaman kentang dan wortel yang merupakan tanaman komoditas masyarakat Kertasari.

Perjalanan dilanjutkan dengan medan yang menanjak.  Semakin tinggi jarak yang ditempuh ternyata pemandangan hijau menghampar semakin terlihat jelas. Petak-petak palawija terlihat tersusun begitu rapi dengan warna hijau yang seragam. Di sebelah timur tampak terlihat hamparan hijau kebun teh seperti permadani yang terhampar luas, selain itu tampak pula kompleks perumahan pegawai perkebunan yang terlihat rapi dan seragam dalam beberapa blok. Rasa penat, bising suara kendaraan telah tergantikan perlahan.

Rute pendakian selanjutnya semakin menanjak, dan akan segera memasuki area hutan Gunung Wayang. Hutan Gunung Wayang merupakan hutan dengan vegetasi yang padat. Jarak antara tanaman yang satu dengan lainnya sangat dekat. Selain itu usia pepohonannya berusia lebih dari dua puluh tahun. Hal ini terlihat dari lumut yang menyelubungi hampir semua kulit pepohonan tersebut.


Selain pohon yang telah uzur, vegetasi lain adalah semak belukar yang didominasi cucuk leuweung (duri hutan) yang bergelantungan di dahan pohon. Cucuk leweung ini cukup merepotkan perjalanan karena durinya sering menancap pada kulit lengan. Rasa gatal yang susah hilang akan segera dirasakan ketika cucuk leuweung tersebut menancap di kulit.
Di tengah vegetasi hutan yang rapat, hamparan hijau kebun teh serta blok-blok perumahan pegawai perkebunan tidak bisa lagi terlihat. Yang bisa kami lihat hanyalah daun-daun serta dahan-dahan pohon yang hijau serta di selubungi lumut yang juga berwarna hijau. Suasana sunyi dan damai sering kali langsung menyergap ketika beristirahat.

Setelah sejenak beristirahat perjalanan dilanjutkan kembali. Hutan dengan vegetasi yang rapat masih harus kami lalui.  Rute jalan rupanya semakin menanjak. Di kanan kiri tampak beberapa jenis jamur tumbuh setinggi sendok makan. Selain jamur, lumut-lumut yang berwarna hijau tua tampak menyelimuti hampir setiap pohon yang kami lalui. Semakin menanjak udara terasa semakin sejuk.

Rute perjalanan kembali semakin menanjak. Akan tetapi vegetasinya tidak terlalu rapat. Kali ini ada semilir angin yang perlahan menyapa kulit. semakin tinggi akan semakin dingin.

Di perut Gunung Malabar terlihat hamparan hijau kebun teh tampak seperti permadani hijau yang di hiasi oleh kabut-kabut tipis berwarna putih awan, dan yang lebih menariknya lagi, kabut tipis tersebut perlahan menghampiri setiap petak kebuh teh secara bergiliran. Jadilah semua hamparan kebun teh tersebut dilewati oleh kabut tipis tersebut tanpa kecuali. Selain kabut tipis, pemandangan yang tak kalah menarik, di perut Gunung Malabar terlihat seperti ada selang-selang kecil berwarna putih yan menempel di tanah. Setelah dilihat lebih jelas ternyata selang-selang tersebut merupakan selang-selang yang berisi gas alam yang berasal dari perut bukit.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP