Gua-Gua Alam Sangkulirang yang Menawan


Tak banyak yang tahu. Di antara gugusan pebukitan Sangkulirang, Kalimantan Timur, terdapat gua-gua alam yang memikat. Jumlahnya tak hanya beberapa, tapi puluhan, bahkan mencapai ratusan gua.

Kawasan Sangkulirang di Kalimantan Timur merupakan daerah karst yang menyimpan banyak gua alam yang indah dan menarik untuk dijelajahi. Gua-gua itu berada jauh di dalam kawasan hutan Ambulabung yang masih termasuk kawasan Desa Pangadan. Untuk mencapai desa ini memang diperlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit, di samping tentunya ketahanan fisik yang memadai. Dari Samarinda, perjalanan dapat ditempuh dengan 2 cara, yaitu lewat jalur air atau darat.

Untuk rute air, waktu yang dibutuhkan sekitar 2 hari. Dalam perjalanan, banyak hal-hal menarik yang dapat disaksikan, seperti kapal-kapal pengangkut kayu dan hasil tambang, serta buaya sungai yang terkenal akan keganasannya. Bila jalur darat menjadi pilihan, sewalah mobil dari Samarinda. Cara ini lebih disukai karena bisa lebih cepat. Namun biayanya juga lebih besar. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 7 jam dan melewati kota tambang Sangatta, yang juga merupakan ibukota kabupaten.

Dari Pangadan, perjalanan dilanjutkan lagi untuk mencapai mulut gua. Kali ini dengan menggunakan truk sewaan sejauh 31 km dan diteruskan dengan berjalan kaki selama 9 jam, melintasi hutan dataran rendah yang lebat serta daerah rawa. Bersiaplah untuk bermalam di jalan. Dan bila itu terjadi, pondokan yang biasa ditinggali oleh para pemburu rusa dapat dimanfaatkan dan akan menjadi pengalaman tersendiri.

Sebenarnya, Anda juga bisa menyewa ketingting atau kapal motor berukuran kecil. Ini memang sangat efektif untuk mempersingkat waktu. Tapi, selain biayanya yang mahal, cara itupun ternyata tidak menjamin Anda bisa sampai di mulut gua dengan mulus. Sebab, bila Sungai Baay sedang surut, maka jalan kaki hingga ke mulut gua tetap harus dilakukan.

Setelah lelah berjuang, sebuah dataran yang teduh dan nyaman di sekitar mulut Gua Ambulabung sangat layak sebagai base camp. Tebing tinggi yang menjulang menjadi payung alam dan melindungi dari guyuran hujan. Tak heran, tanah di sini selalu kering dan menjadi lokasi yang pas untuk mengusir lelah. Mulut gua yang dialiri Sungai Baay juga patut diwaspadai. Kawanan biawak kerap muncul untuk berjemur di bebatuan di pagi hari.

Siang hari adalah waktu yang tepat untuk memulai penelusuran di Gua Ambulabung. Namun bersiaplah untuk basah akibat air sungai yang mengaliri mulut gua. Demi keamanan, kenakan pula pelampung. Jangan lupa memasukkan kamera, handycam atau alat-alat elektronik lainnya ke dalam waterproof bag dan letakkan barang-barang tersebut pada rakit bambu yang dibuat untuk membantu pergerakan. Setelah melewati sungai, sebuah ruangan besar yang luasnya lebih dari 1.000 m2 sudah menunggu. Walau suasananya agak gelap, ruangan ini ternyata langsung beratapkan langit dengan lantai berpasir. Ini menunjukkan bahwa lorong vertikal itu ternyata merupakan entrance lain ke Gua Ambulabung.

Pada dindingnya yang licin, tampak banyak lorong misterius yang tak diketahui secara pasti ke mana arahnya. Penelusuran lorong-lorong itu sangat berat dan memakan waktu yang lama. Sebab selain harus memanjat, para caver juga harus melakukan pengeboran untuk memasang alat pengaman. Di sudut lain, ada lagi lorong yang dialiri sungai yang deras. Bila tidak dilengkapi peralatan yang memadai, janganlah memasukinya. Kecelakaan fatal bisa saja terjadi. Namun, jangan berkecil hati. Masih ada sejumlah lorong yang aman untuk ditelusuri. Salah satunya adalah sebuah lorong vertikal sedalam 40 m. Lorong berdiameter sekitar 50 m ini mirip dengan Luweng Musuk di Pacitan, Jawa Timur dan sangat menantang.

Masih banyak gua-gua lain yang menggoda. Misalnya Gua Embun, yang bila disusuri masih terhubung dengan Ambulabung. Gua ini menandakan bahwa Gua Ambulabung bukanlah gua tunggal melainkan sebuah sistem gua yang memiliki beberapa entrance. Gua Bejo juga menarik untuk ditelusuri. Nama gua yang kaya akan sarang burung walet ini diambil dari nama penduduk pemilik gua tersebut. Tidak seperti dua gua sebelumnya, Gua Bejo ternyata cukup pendek, sehingga eksplorasi bisa berlangsung cepat, hanya sehari saja.

Gua Kedulang, Kecabe dan Gua Mapala yang letaknya agak jauh, adalah 3 gua lain yang menanti untuk dieksplorasi. Sebelum mencapai gua-gua ini, Anda juga akan menjumpai Gua Terusan Pendek dan Liang Mato. Ada pula gua berukuran raksasa yang di dalamnya terdapat aliran sungai fosil yang dikenal dengan Gua Juned. Pada salah satu entrance-nya, terdapat padang pasir setinggi mata kaki dengan flowstone raksasa yang menawan di atapnya. Nama Gua Mapala sendiri diambil nama Mapala UI sebagai tim pertama yang memasuki gua ini. Tim ini juga memberi nama untuk 2 gua 'perawan' lainnya, yaitu Barongtongkok dan RPT.

Sangkulirang memang lokasi yang menantang, mengingat luasnya kawasan karst ini dan banyaknya gua di sini. Dan tampaknya, masih banyak gua perawan yang belum ditemukan dan menunggu untuk dieksplorasi oleh para caver. Jadi, siapa yang berani menyusul?


Tips menuju kawasan Karst Sangkulirang
  • 1. Siapkan fisik dan skill Anda dengan baik. Latihan teratur dan terarah, sangat dibutuhkan.
  • 2. Kawasan Sangkulirang (dan Kalimantan pada umumnya) merupakan daerah endemik malaria. Minum pil kina atau obat anti malaria lainnya, sebelum dan sepulangnya dari lokasi, sesuai petunjuk penggunaannya.
  • 3. Daerah Sangkulirang sangat panas dan kering. Bawa topi, kacamata hitam atau payung untuk melindungi Anda dari terik matahari. Bawa pula masker untuk mencegah gangguan saluran pernapasan akibat debu atau guano (kotoran kelelawar).   
  • 4. Lengkapi tim Anda dengan peralatan standar keamanan penelusuran gua, baik untuk gua horizontal ataupun vertikal, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
  • 5. Guide akan sangat membantu sebagai penunjuk jalan untuk menghindari resiko tersesat. Selain itu, guide juga bisa berfungsi sebagai porter dan komunikator bila Anda bertemu dengan kawanan pencari sarang burung walet di kawasan ini. Ingat, mereka bisa saja mencurigai Anda sebagai perampok sarang burung walet.
  • 6. Perhitungkan kebutuhan logistik, alat penerangan, batu baterai dan kebutuhan vital lainnya agar penelusuran berjalan lancar, karena daerah ini masih sangat terisolir.
  • 7. Bila memungkinkan, bawa juga telepon satelit untuk memudahkan komunikasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan, mengingat belum adanya jaringan telepon seluler yang menjangkau daerah ini.  
("Majalah Tamasya") 

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP