Gua Mubau, Surga Pencinta Alam

MENYEBUT Tana Toraja, tentu tidak asing lagi bagi siapa saja, bahkan bagi turis mancanegara. Pasalnya, Kabupaten Tana Toraja sudah menjadi ikon pariwisata di Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk Pulau Sulawesi.
Namun, Kabupaten Enrekang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja, potensinya masih belum banyak diketahui. Daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Maserenreng Pulu’ ini padahal kaya objek wisata. Oleh karena itu, berbicara tentang Enrekang memang enggak ada matinya bagi para pemanjat tebing dan pencinta alam. Rante Mario, misalnya, merupakan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi. Selain itu, tebing-tebing tinggi nan eksotis seperti Uluway dan Tontonan menjadi tempat berlaga bagi yang haus akan tantangan.
Kabupaten Enrekang yang berlokasi sekitar 276 kilometer dari Kota Makassar ini, secara geografis memang berada di wilayah pegunungan dan hampir sebagian daerah ini terdiri dari pegunungan karst (batu kapur). Tak heran, jika di daerah ini bakal ditemukan berbagai jenis batuan dan anak-anak sungai yang memotong pegunungan yang satu dengan lainnya.
Sebagai daerah yang banyak memiliki kawasan karst, otomatis juga memiliki banyak gua. Salah satu gua yang kerap didatangi pencinta alam, karena terbilang eksotis, penuh tantangan dan memiliki kekhasan yang membedakan dengan gua lainnya adalah Loko Mubau (Gua Mubau). Pemberian nama Gua Mubau oleh masyarakat setempat, karena dari dalam gua ini mengeluarkan aroma/bau khas (seperti bau apek) yang tercium mulai jarak 2 meter dari mulut gua. Entah itu karena batuan yang mulai lapuk atau karena kotoran kelelawar. Yang jelas, bau ini sudah tercium sejak ditemukannya gua ini, hingga sekarang.
Untuk tiba di Gua Mubau yang berlokasi di Dusun Asean, Desa Parindin, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulsel, dibutuhkan fisik yang prima. Hal ini karena untuk mencapai tempat tersebut harus menempuh perjalanan kurang lebih sembilan jam dengan kendaraan roda empat dari Kota Makassar, atau sekitar dua jam dari Ibu Kota Kabupaten Enrekang. Itu pun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menelusuri lembah, ngarai dan sungai-sungai di Kawasan Baraka dengan suhu rata-rata 5-15 derajat Celcius, bahkan bisa di bawah 0 derajat Celcius pada waktu-waktu tertentu. Rasa penat sepanjang perjalanan akan sirna dan terobati tatkala sudah menikmati pemandangan di sekitar Dusun Asean hingga menelusuri bukit dan lembah, diiringi kicau burung serta gemericik air sungai. Kadang-kadang juga bisa dilihat ular piton yang melilit di pohon atau melintas pada jalan setapak.
Menelusuri Gua
Menelusuri Gua Mubau membutuhkan waktu rata-rata tiga jam perjalanan, mulai dari mulut gua sampai ke batas akhir berupa mulut gua lainnya. Mulut gua sebagai pintu masuk berdiameter 8 meter dengan tinggi langit-langit 5 meter. Banyak pemandangan khas gua yang ditawarkan, seperti stalaktit dan stalagmit dengan bermacam-macam ukuran dan bentuk. Salah satu bentuknya menyerupai kubah masjid. Ada pula yang membentuk dinding dan sebagai penyekat antara lorong-lorong di dalam gua ini.
Bagi yang memiliki hobi fotografi, tentu tidak akan kecewa. Di sepanjang lorong terdapat banyak ornamen gua yang unik yang bisa dijadikan background pemotretan. Sementara itu, jika dilihat dari jarak antara dasar gua dan langit-langit gua sekitar 8 meter dan stalaktit serta stalagmitnya berukuran besar, keberadaan gua ini sudah sangat lama. Untuk pembentukan stalaktit dan stalagmit saja membutuhkan proses lama, apalagi dalam gua sudah ada yang membentuk tiang karst.
Stalaktit terbentuk karena ada air yang menetes dari langit-langit gua. Dalam proses menetes tadi terbawa material yang kemudian menjadi bahan dasar stalaktit dan stalagmit. Material yang tertimbun pada dasar gua itu yang disebut stalagmit, sedangkan yang menggantung seperti sarang tawon dan berada pada langit-langit gua disebut stalaktit. Jika stalagmit dan stalaktit menyatu atau bertemu, akan membentuk seperti pilar yang dinamakan tiang karst.

Di dalam Gua Mubau terdapat sebuah sungai yang tak jauh dari mulut gua. Uniknya, sungai ini berasal dari dua aliran sungai kecil yang keluar dari celah-celah batu, yang satu berair sangat dingin dan anak sungai yang satunya lagi berair hangat. Kedua mata air ini bertemu pada satu badan sungai selebar 3 meter dengan panjang aliran sungai sekitar 30 menit berjalan kaki. Sedangkan lantai gua terdiri dari tanah liat dan batu gamping.

Sebenarnya, untuk menelusuri gua ini harus dengan bantuan porter. Kalau tidak, bisa-bisa tersesat karena ada ratusan lorong yang mirip di sepanjang dinding gua yang harus dilewati. Untuk penerangan, bisa mengandalkan lampu senter atau obor. Tetapi kalau ingin melihat dengan jelas, bisa memakai lampu petromaks yang disewakan para porter dengan biaya Rp 25.000 sekali pakai.
Kendati umur gua ini diperkirakan sudah ratusan tahun, namun baru pada 2004 dinyatakan sebagai cagar alam yang dilindungi berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 320/KPTS-II/1994. Gua ini mulai didatangi pengunjung sejak 2002.

Berdasarkan cerita penduduk setempat, penemuan Gua Mubau ini ketika seorang nenek di Dusun Asean akan menemui ajalnya dan tiba-tiba mendapatkan wangsit untuk mendatangi tempat itu. Pihak keluarga sang nenek yang tidak tega menolak permintaan terakhir tersebut, akhirnya mengantarkan sang nenek mendatangi gua itu, meski tidak yakin betul. Hal ini karena lokasi yang dimaksudkan sang nenek tidak terlihat seperti gua. Pohon-pohon dan semak belukar tumbuh lebat. Selain itu, mulut gua juga tidak kelihatan karena tertutupi bongkahan batu besar.

Setelah menggeser bongkahan batu itu, barulah mulut gua terlihat. Melihat gua tersebut, sang nenek pun menghembuskan napas terakhir. Namun sebelum meninggal, ia berpesan agar memberi nama gua itu sesuai dengan kondisinya.
Semenjak diketahui ada gua di lokasi itu, orang-orang ramai mengunjungi Gua Mubau hingga saat ini, meski harus menempuh perjalanan cukup jauh dan melewati medan yang agak sulit. Sebagian jalan ke lokasi itu tidak dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua atau empat.  ("Suriani/Sinar Harapan")

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP